Kamu di situ
membawa sekantung roti,
pekatnya kopimu meratakan saraf2 hidungku.
sepertinya buruanmu mendekati
tanpa tahu ada mata memancang likunya.
ah, baju gelapmu adalah samaran sempurna
di gelap sehitam dosa malam ini.
Apakah dia melihat kilatan matamu?
Kamu yang menyamar di keramaian
memakai kulit manusia tanpa keluarbiasaan
seakan tajammu hanya semu
Tapi apa bisa haus darah tak terdeteksi sama sekali?
Kamu bersandar di tembok bata,
tak rata namun lelahmu tak memandang bulu, nyaman rasanya
tanganmu basah merah melunglai
bukan lelah, tapi gemetar puas.
nyawa orang itu sudah lepas
selepas kepalanya yang terkulai.
dan walau tertahan kau tertawa
di hitam malam tanpa bintang kejora
di saat tawamu habis
kau baru merasakannya
sepasang mata berkilat hitam
sekelebat kawat menjerat lehermu
dan hembusan dingin nafasku
Sekarang, saat dosamu terkonfirmasi
saatnya aku yang puas
dan tertawa
sambil kucat merah
kelamnya tanah di kuburanmu
dan sesamamu.
Terima kasih...
Korbanku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar